Catat! Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menikahi Sepupu

The just married couple Laila, right, and Boualem Bellil are photographed by Laila's mother, left, in the Stall Courtyard, a most frequented tourist spot, in Dresden, eastern Germany, Thursday, March 26, 2020. They celebrate today without wedding guests because of the government regulations and want to make up for the party next year. In order to slow down the spread of the coronavirus, the German government has considerably restricted public life and asked the citizens to stay at home. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (AP Photo/Jens Meyer)

Pulang kampung dan bertemu keluarga saat Hari Raya Lebaran, ajang silaturahmi yang biasanya paling ditunggu. Kesempatan ini sekaligus menjadi ajang pertemuan antar sepupu.

Karena ada bumbu-bumbu cinta maka kerap ada pertanyaan yang selalu ramai dalam pencarian Google pada Lebaran, apakah boleh menikahi sepupu?

Mayoritas jawaban dari pertanyaan tersebut banyak dibahas dari perspektif agama, dan menghasilkan beragam perdebatan. Namun, dari segi sains jawabannya tentu boleh, tetapi syarat dan ketentuan berlaku.

Perlu diketahui, saat proses penciptaan manusia ada dua gen (DNA) berbeda, gen ayah dan gen ibu.

Merujuk riset “Keeping it in the family”, jika kita melakukan pernikahan tidak sedarah, maka dua gen berbeda itu akan bercampur dan akan membawa keuntungan. Perbedaan materi genetik itu bakal menutup peluang besar terciptanya penyakit.

Misalkan seorang ibu memiliki genetik non-diabetes dan seorang ayah diabetes. Maka, bayinya berpeluang besar tidak terkena diabetes karena perbedaan genetik itu bisa mencegah munculnya diabetes.

Keuntungan inilah yang tidak didapat apabila seseorang menikahi sepupu yang kedua pasangannya memiliki persamaan genetik.

Melansir laporan Business Insider berjudul “Is marrying your cousin actually dangerous?”, jika benar-benar dua genetik yang sama bercampur, maka peluang untuk melahirkan anak yang memiliki kelainan akan makin besar.

National Health Service (NHS) Inggris menyebut pernikahan sepupu meningkatkan resiko cacat lahir dari 3% menjadi 6%. Lalu, dipaparkan juga kalau 100 bayi yang lahir dari pasangan sedarah terdapat 5-6 bayi yang cacat atau memiliki kelainan genetik.

Kelainan yang dialami pun bukan hanya cacat fisik lahir, melainkan bisa juga kebutaan, tuli, keterbelakangan mental, kelainan darah, dan gagalnya kemampuan kognitif.

Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi di Pakistan.

Dalam laporan Deutsche Welle, disebut bahwa di Pakistan mayoritas penduduknya menjalani pernikahan kerabat karena faktor agama. Banyak penduduk Pakistan meyakini bahwa agama mereka menganjurkan seseorang untuk melakukan pernikahan sedarah.

Parahnya, pandangan ini diperparah oleh paradigma kesukuan yang kuat di kalangan mereka. Bahwa apabila mereka tidak mematuhi kebiasaan ini, maka akan dikucilkan dan mendapat tekanan sosial yang sangat besar. Akibatnya, peluang untuk tidak melakukan pernikahan sepupu semakin kecil dan membuat rantai pernikahan ini sulit diputus.

Dalam laporan Departemen Kesehatan Pakistan, diketahui kalau 30.000 keluarga di Pakistan tumbuh besar dengan dugaan kelainan genetik. Lebih lanjut, kelainan itu telah menimbulkan mutasi genetik lebih dari 1.000. Dan 130 kasus terkait ini sudah ditemukan dan tercatat pemerintah.

Dari paparan di atas, dapat diketahui kalau menikahi sepupu memang tidak dilarang dalam sains, tetapi resikonya besar. Resiko besar dan berbahaya itulah yang patut dipertimbangkan jika tetap nekat menikahi sepupu

Salah satu sumber Deutsche Welle menyebut kalau salah satu putranya mengalami kecacatan berupa kelainan otak yang tidak berkembang ke ukuran normal. Dan anak yang lainnya memiliki gangguan bicara dan pendengaran.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*